Fenomena Ibdal dalam al-Quran (Analisis pada Surah
Ali Imran)
Muhammad Zikran Adam
Siti Hajar Yusuf
Abstrak
Dalam pembelajaran bahasa Arab, kaidah
menjadi salah satu hal yang penting untuk dipelajari dala hal kaidah itu adalah
ilmu nahwu dan sharf . dalam kaidah shorf terdapat konsep ibdal
yaitu penggantian huruf pada sebuah kata. Ibdal juga termasuk dalam
ranah kaidah penulisan, maka dari itu terkait dengan penulisan al-quran
menggunakan rasm ustmani peneliti ingin melihat fenomena penulisan ibdal
pada al-quran rasm ustmani lebih kerucut lagi pada surah ali Imran
Penelitian ini menggunakan kualitatif
dengan pendekatan studi pustaka yaitu dengan menelaah buku-buku. Peneliti
mengkategorikan kaidah-kaidah ibdal yang terjadi dalam surah ali Imran.
Setelah diteliti ditemukan fenomena ibdal dalam surah ali Imran sebanyak
32 kata, dan beberapa diantaranya terulang beberapa kali. Dengan penelitian ini
diharapkan akan menjadi penambah wawasan juga akan menambah kecintaan pada
al-quran
Kata kunci: fenomena, Analisis, Ibdal
A. Pendahuluan
Bahasa Arab adalah bahasa yang telah mendunia, bahasa Arab
berasal dari rumpun bahasa-bahasa Semit, yakni bahasa yang dipergunakan
kabilah-kabilah Arab purba yang mendiami daerah Asia Barat (Irawati) . Berbicara tentang bahasa semit
menunjukkan keistimewaan bahasa Arab itu sendiri, maka dengan hal ini menjadi
ketertarikan tersendiri juga untuk mempelajarinya.
Dalama pembelajaran bahasa Arab tentu tidak bisa terlepas
dari empat kajian berikut ini, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis dan
semantik. Fonologi atau yang dalam bahasa Arab disebut dengan ilmu Shout,
yaitu yang membahas tentang suara, bagaimana menghasilkannya, dan lainnya.
Morfologi atau ilmu Shorfi membahas tentang pembentukan kata, pembagiannya, dan
musytaqnya. Sintaksis atau ilmu Nahwu membahas tentang lafadz dan proses
penyusunannya hingga menjadi sebuah kalimat. Dan semantik atau ilmu Dalalah
yang membahas tentang makna leksikal, gramatikal, ataupun kontekstual.(Himmatul)
Dalam bahasa Arab, tidak bisa dielakkan lagi bahwa kaidah
memegang peranan sangat penting didalamnya. Terutama nahwu dan shorof. Karena kaidah menentukan bagaimana cara kita
memahami bahasa tersebut dan membuat orang lain paham dengan apa yang kita
ucapkan.
Salah satu dari pada kaidah-kaidah shorof ialah penggantian
huruf (ibdal). Al–Ibdal (الإبدال) adalah membuang
suatu huruf dan menempatkan huruf lain di tempatnya. Al-Ibdal itu sama
seperti i’lal. Hanya saja dalam i’lal yang menjadi sasaran adalah
huruf illat (huruf berpenyakit), artinya huruf illat yang satu
mengganti tempatnya huruf illat yang lain. Sedangkan dalam Ibdal yang
menjadi objeknya adalah huruf illat maupun huruf shahih. Artinya
menempatkan huruf shahih di tempat huruf shahih yang lain(Hula) .
Ranah pembicaraan ibdal adalah bagian dari pembahasan
morfologi, namun karena berkaitan dengan kaidah penulisan maka dia menjadi
salah satu pembahasan dari kaidah khot dan imla’.
Al-qur’an adalah mu’zizat yang Allah swt. berikan kepada
nabi Muhammad saw. dan al-quran sampai kepada kita dengan mutawattir namun ini
hanya pada cara bacanya saja, namun berbeda dengan penulisan al-quran tersebut.
Pada zaman Ustman bin affan ra. terdapat polemik perkara
penulisan al-qur’an, maka dari itu Ustman kemudian mengambil ijtihad untuk
menstandarisasikan al-quran, maka lahirlah yang kita kenal dengan mushaf rasm
ustmani, arti dari rasm itu sendiri menurut az-zuhairi adalah jejak atau
bekas (شرشال)
Seperti telah diketahui rasm mushaf bermacam-macam
maka yang tentunya masing-masing memilik sanad yang kuat, maka dari itu akan
berbeda juga kaidah penulisan atau rasm pada rasm mushaf yang
lain. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk
mencari fenomena ibdal yang ada pada mushaf rasm ustmani yang dikerucutkan lagi
pada surah ali Imran.
B.
Pembahasan
Ibdal sebenarnya adalah salah satu pembahasan
ilmu morfologi atau
tata bentuk yaitu bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata
secara gramatikal(Fathoni). Dalam bahasa arab morfologi dikenal
dengan ilmu sharaf Shorof diartikan sebagai kaidah untuk mengetahi
seluk beluk kontruski atau bangunan kata. Menurut al-Ghalayayni, ‘ilm
al-sharf adalah ilmu yang membahas
dasar-dasar pembentukan kata termasuk di dalamnya imbuhan (Natsir).
Dalam
salah satu pembahasan shorof mengenai aturan menulis kata, terdapat beberapa
aturan atau kaidah yang harus diterapkan sehingga akan banyak ditemukan
kata-kata yang berbeda dari apa yang seharusnya ditulis, kejadian penulisan
tersebut yang dinamakan dengan defekasi local atau disebut juga i’lal (Himmatul)
sebelum membahas tentang ibdal, perlu
untuk mengetahui tentang I’lal
الإعلال
تغيير حرف العلة، بالقلب، أو الحذف، أو الإسكان
Terjemahnya
: I’lal ialah mengubah huruf illat dengan cara mengganti, membuang,
ataupun dengan cara mematikan (sukun).(Himmatul)
Dengan pengertian tersebut
dapat dipahami bahwa I’lal adalah
proses untuk meringankan lisan dalam pengucapan sebuah kata dengan cara
mengganti, menyukunkan atau membuang salah satu atau dua huruf dari kata
tersebut.
Salah satu bentuk I’lal adalah
penggantian (ibdal). Namun ada juga yang berpendapat bahwa I’lal dan
ibdal adalah dua hal yang terpisah karena I’lal hanya ada pada
huruf illah (huruf penyakit) saja sedangkan ibdal selain huruf illah juga
ada huruf shohih (Iltaqiyah)
1.
Pengertian
al-Ibdal adalahmembuang
suatu huruf dan menempatkan huruf lain ditempatnya (Hula) Berikut adalah beberapa kaidah-kaidah
dalam ibdal
a.
Kaidah 1
Huruf
wawu dan ya’ diganti hamzah apabila berada di akhir kata
dan sesudah alif zaidah (tambahan). Contohnya : دَعَاوٌ
menjadi دعاء
karena asal fi’ilnya دعا-
يدعو
b.
Kaidah 2
Huruf
waw dan ya’ diganti hamzah ketika ‘ainnya isim fa’ il
dan dii’lal pada fi’ilnya. Contoh : قائل
, بائع fi’ilnya adalah قال, باع yang asalnya قَوَلَ
، بَيَعَ
c.
Kaidah 3
Huruf
mad zaidah yang berada di isim shahih akhir dan sebagai huruf
ketiga itu harus diganti hamzah apabila isim tersebut mengikuti wazan
مفَاعِل . Baik huruf mad
tadi berupa alif, wawu, atau ya’. Contoh : قلادة،
عجوز، صحيفة
menjadi قلائد، عجائز،
صحائف .
d.
Kaidah 4
Apabila
alifnya jamak yang mengikuti wazan مَفَاعِل itu berada di
antara dua huruf illat pada isim shahihul akhir, maka huruf illat
yang kedua diganti hamzah. Contoh jamak dari أوّل،
سيّد yaitu أوائل ، سيائد yang asalnya أواول،
سياود .
e.
Kaidah 5
Apabila
ada waw yang berharakat dhummah dan berada sesudah huruf yang sukun
atau sesudah huruf yang dibaca dhummah pula, maka waw boleh
diganti hamzah dan boleh pula ditetapkan (tidak diganti hamzah ).
Tetapi yang diganti lebih bagus daripada yang tidak. Contoh : أُدْوُرُ
،حُوُوْلٍ tatkala diganti dengan hamzah menjadi أَدْؤُرُ،
حُؤُوْلٌ
f.
Kaidah 6
Setiap
kata yang telah kumpul padanya huruf waw yang di depan, maka waw
yang pertama wajib diganti hamzah sepanjang waw yang kedua tadi
tidak gantian (berasal) dari alif nya مفاعلة . Sama juga waw
yang pertama itu sebagai huruf mad. Contoh : kata الأُوْلَى yang
asalnya الوول begitu pula pada jamaknya الأُوَلَ
g.
Kaidah 7
Apabila
fa’nya fi’il yang mengikuti wazan اِفْتَعَل itu berupa wawu
atau ya’, maka harus diganti ta’ dan kemudian di idghamkan
(masukkan) kedalam ta’nya. Contohnya : اِتَّقى ، اتّصَلّ
yang asalnya اِوْتَصَلَ،
اِوْتَقَى .
h.
Kaidah 8
Apabila
fa’ fi’ilnya fi’il yang mengikuti wazan إفتَعَلَ itu berupa tsa’
maka ta’nya wajib diganti tsa’ kemudian diidghamkan.
Contoh : اِثَّأرَ
yang asalnya اِيْثَأرَ .
Dan apabila fa’nya berupa dal, dzal, atau za’, maka huruf ta’nya
wajib diganti dal. Contoh : إدَّعى،
إذْدّكَرَ، إزْدَهى yang asalnya إدْتَعى،
إذتَكرَ، إزتَهى Dan apabila fa’nya berupa shad, dhad, tha’,
atau dzha’, maka ta’nya wajib diganti tha’. Contoh : اصطاد،
اِضْطَربَ، اِطَّلَعَ، اِطَّردَ. Asalnya اصْتاد،
اضْتربَ، اِطْتَلع، اِطْتَرَدَ
i.
Kaidah 9
Fi’il
yang fa’
fi’il -nya berupa : tsa’, dzal, dal, za’,
shad, dhad, tha’, atau dzha
’ dari fi’il yang mengikuti wazan تَفَاعَلَ،
تفعَّلَ، تَفَعْلَلَ itu
sekiranya huruf ta’ pada wazan itu kumpul dengan fa’
kalimat tersebut diatas, maka padanya boleh dilakukan adanya penggantian
huruf ta’ dengan huruf yang bisa sesuai (sejenis) dengan huruf
sesudahnya, kemudian huruf pengganti ta’ tadi diidghamkan ke dalam huruf
sesudahnya. Sesudah demikian maka sulit dibaca karena huruf pertamanya berupa
huruf yang sukun, maka wajib mendatangkan hamzah washal.
Contoh : pelafalannya اثَّاقَلَ ، ادَّثَر، اذَكرَasalnya adalah تَثَاقَل،
تَدَثَّرَ، تذَكَّرَ
j.
Kaidah 10
Apabila ada huruf ta’, yang mati sebelum huruf dal,
maka huruf ta’ wajib diganti dal dan kemudian diidghamkan ke
dalam huruf dal sesudahnya.
Contoh : lafal
عِدَّانٍ asalnya عتْدانِ jamak dari عَتُودٍ
k.
Kaidah 11
Apabila
ada huruf nun mati yang berada
sebelum huruf mim atau ba’ , maka huruf nun itu harus
diganti mim. Contoh : lafalnya امَّحَى،
سُمْبَل asalnya انْمَحَى ، سُنْبَل
namun untuk kata سُمْبَلtulisannya tetap tertulis سُنْبَل
l.
Kaidah 12
Huruf
waw diganti mim sesudah huruf ha’ yang ada padanya
dibuang. Contoh : فم asalnya فوه . Dan pada saat lafadz tersebut dimudhafkan , maka huruf mim boleh
dikembalikan berupa huruf aslinya yaitu wawu , dan boleh huruf mim
sebagai pengganti waw tadi ditetapkan. Contoh : هذا
قوك atau هذا
فمُك
2.
Hasil Penelitian
Telah
ditemukan kata-kata dalam surah ali – Imran yang telah mengalami ibdal yaitu :
|
No
|
Ayat
|
Ibdal
|
Asal Kata
|
|
1.
|
ﲕ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞ ﲟ ﲠ ﲹ
|
ابْتِغَاء
|
بّغّيّ
|
|
2.
|
ﲬ
ﲭ ﲮ ﲯ ﲰﲱ ﲲ ﲳ
ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ....ﳆ ﱠ
|
اتقَوا
|
وّقّيّ
|
|
3.
|
ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱙ ﱚ ﱛ ﱜ ﱝ ﱞ
ﱟﱠ ...ﱧ ﱠ
|
قائما
|
قّوّمّ
|
|
4.
|
ﭐﭐ ﭐ ﲫ ﲬ ﲭ ﲮ ﲯ ﲰ ﲱ ﲲﲳ… ﳉ
|
يتَّخِذ
|
أَخَذَ
|
|
5.
|
... ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ
ﲿ ﳀﳁ ﳂ ﳃ ﳄﳅ ﳆ
ﳇ ﳈ ﳉ
|
تتقُوا
|
وقي
|
|
6.
|
ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ ﲃ ﲄ
ﲅ ﲆ ﲇ
|
اصطفى
|
اصْتَفى
|
|
7.
|
ﭐ ﱓ ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱙ ﱧ
|
قائم
|
قَوَمَ
|
|
8.
|
ﱡﭐ ﲒ ﲓ
ﲔ ﲕ ﲖ ﲗ ﲘ ﲙ ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞ ﱠ
|
اصطفاك
|
صَفَوَ
|
|
9.
|
...ﲧ ﲨ ﲩ ﲪ ﲫ ﲬ ﲭ ﲮ ﱠ
|
فاتَّقُوا
|
وَقَيَ
|
|
10.
|
ﭐ ﱚ
ﱛ ﱜ ﱝ ﱞ ﱟ ﱠ ﱡ ﱢ ﱣ ﱤ ﱥ ﱦ ﱧ ﱨ ﱩ ﱪ... ﱺ
|
سواء
|
سَوَيَ
|
|
11.
|
.. ﱫ ﱬ ﱭ ﱮ ﱯ ﱰ ﱱ ﱲﱳ ﱴ ﱵ ﱶ ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ
|
يتَّخِذ
|
أَخَذَ
|
|
12.
|
ﲚ ﲛ ﲜ ﲝ ﲞ ﲟ ﲠ ﲡﲢ ﲣ ﲤ ﲥ ﲦ ﲧ ﲨ ﲩ ﲪ....ﲱ ﱠ
|
قائما
|
قَوَمَ
|
|
13.
|
ﱡﭐﲲﲳ ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﱠ
|
واتقَى
|
وَقَيَ
|
|
14.
|
ﭐ ﱼ ﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂﲃ ﲄ ﲅ ﲆ ﲇ ﲈ ﲉ ﲊ ﱠ
|
تَتَّخِذُوا
|
أَخَذَ
|
|
15.
|
ﭐ ﱁ ﱂ ﱃ ﱄ ﱅ ﱆ ﱇ ﱈ.. ﱓ
|
تُتْلى
|
تَلاَ
|
|
16.
|
ﭐ ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱙ ﱚ ﱛ ﱜ ﱝ ﱞ ﱟ ﱠ
|
اتَّقُوا
|
وَقَيَ
|
|
17.
|
ﭐ ﲜ ﲝﲞ ﲟ ﲠ ﲡ ﲢ ﲣ ﲤ ﲥ ﲦ ﲧ
ﲨ ﲩ ﲪ ﲫ
|
سواء
|
سَوَيَ
|
|
18.
|
ﲜ ﲝﲞ ﲟ ﲠ ﲡ ﲢ ﲣ ﲤ ﲥ
ﲦ ﲧ ﲨ ﲩ ﲪ ﲫ
|
قائمة
|
قّوَمَ
|
|
19.
|
ﭐ ﱯ ﱰ
ﱱ ﱲ ﱳ ﱴ ﱵ ﱶ ﱷ ﱸ ﱹ ﱺ ﱻ ﱼ
ﱽ ﱾ ﱿ ﲀ ﲁ ﲂ ﲃ ﲄ ﲅﲆ
ﲇ ﲈ ﲉ ﲊﲋ ﲌ ﲍ ﲎ ﲏ
|
تَتَّخِذُوا
|
أَخَذَ
|
|
20.
|
ﭐﭐ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ ﳅ
|
تتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
21.
|
ﭐ ﱏ ﱐ ﱑ ﱒ ﱓ
ﱔﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱙ ﱚ
|
فاتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
22.
|
ﭐﱩﱪ ﱫ ﱬ ﱭ ﱮ ﱯ ﱰ ﱱ ﱲ ﱳ
ﱴ ﱵ ﱶ ﱷ ﱸ ﱹ
|
تتَّقُوا
|
وَقَيَ
|
|
23.
|
ﭐ ﲍ ﲎ
ﲏ ﲐ ﲑ ﲒ ﲓ ﲔ ﲕ ﲖ
|
خائبين
|
خَيَبَ
|
|
24.
|
ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ
|
اتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
25.
|
ﳅ ﳆ ﳇ ﳈ ﳉ ﳊ
|
اتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
26.
|
ﲭ
ﲮ ﲯ ﲰ ﲱ ﲲ ﲳ ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ
|
يَتَّخِذ
|
أَخَذَ
|
|
27.
|
ﲴ ﲵ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ
|
اتقَوا
|
وَقَيَ
|
|
28.
|
ﲷ ﲸ ﲹﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ
|
تتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
29.
|
ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ
|
تتقُوا
|
وَقَيَ
|
|
30.
|
ﲁ ﲂ ﲃ ﲄ ﲅ ﲆ ﲇ ﲈ ﲉ
ﲊ ﲋ ﲌ.. ﲗ
|
اتَّقَوا
|
وَقَيَ
|
|
31.
|
ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ ﲿ ﳀ ﳁ
ﳂ ﳃ
|
اتَّقُوا
|
وَقَيَ
|
3.
Penjelasan
Lafal اِبْتِغَاءُ mengalami ibdal karena pada kata
asalnya adalah ب غ ي kemudian ditimbang dengan افْتَعَلَ menjadi ابتِغَى maka seharusnya masdhar nya
menjadi ابتغاى
namun huruf ya’ telah dibadal
dengan huruf hamzah, karena terletak setelah alif zaidah.
Begitupula dengan lafal سَوَاء asal katanya adalah س و ي maka masdharnya yang harusnya سواي menjadi سواء
Lafal قائم
baik dia berupa manshub atau marfu
baik dia muzakkar atau muannats, dia adalah isim fa’il dari
fi’il قام
–يقوم yang asal katanya adalah ق
و م maka seharusnya isim fa’ilnya
adalah قاوَمَ namun wawu dbadal dengan hamzah karena
dia adalah ain isim fa’il dan dii’lal pada fi’ilnya
mengikuti kaidah yang ada. Begitupula pada lafalخَائِبيْن
, fi’ilnya adalah خاب- يَخِيْبُ yang asal katanya adalah خ
ي ب maka ya’ diganti dengan hamzah.
Lafal اِصْطَفَى
atau اصْطفاك
adalah kata yang mengikuti wazan اِفْتَعل
maka seharusnya menjadi اصْتَفى namun
karena fa’ fi’ilnya adalah huruf shod maka huruf ta’
dibadal dengan huruf tho’ mengikuti kaidah. Adapun pada lafal اصْطفاك alif maksurohnya berubah menjadi alif
karena telah diidhofkan.
Lafal
اِتَّقى baik dia berupa fi’il madhi, mudhori atau amr
dia adalah kata yang mengikuti wazan اِفْتَعل
maka seharusnya dia menjadi اِوْتَقى
karena asal katanya adalah و
ق ي namun huruf wawu dibadal
dengan huruf ta’ dan idgomkan kedalam huruf ta’
setelahnya. Begitupula pada lafal يتّخِذ dia mengikuti wazan يَفْتَعِلُ maka seharusnya menjadi يأتَّخِذ
karena asal katanya adalah أ
خ ذ namun alif dibadal dengan
huruf ta’ dan di idghomkan ke huruf yang ta’ yang berikutnya.
4.
Analisis
Dalam
surah ali Imran terdapat 32 kata yang telah mengalami fenomena ibdal, 32
kata tersebut adalah اتَّقَى
dalam bentuk fi’il madhi terulang
4 kali, dalam fi’il mudhori terulang 5 kali dan dalam fi’il amr terulang
6 kali
Kata
يّتَّخِذُ terulang sebanyak 5 kali dalam bentuk fi’il mudhori saja.
Kemudian kata قائِم
dalam bentuk manshub terulang 2
kali dan juga 2 kali dalam keadaan marfu namun salah satu dari dua tersebut
berbentuk isim fa’il muannats dan kata خائِبِينَ hanya terulang sekali saja.
Kata اصْطَفى terulang
2 kali namun salah satunya berbentuk idhofah, dan kata سَواء
terulang 2 kali dan kata ابْتِغاء
terulang sekali saja. Dalam surah ali
Imran juga tedapat ayat yang berisi dua kata sekaligus yang mengalami ibdal
yaitu pada ayat 28, 64, dan 113.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan pada bagian yan terdahulu dapat disimpulkan bahwa :
1.
Pengertian al-Ibdal adalah
membuang suatu huruf dan menempatkan huruf lain ditempatnya Berikut adalah beberapa kaidah-kaidah
dalam ibdal.
2.
Ditemukannya fenomen ibdal pada mushaf rasm ustmani
dalam surah ali Imran sebanyak 32 kata dan terdapat dua kata yang mengalami
ibdal dalam ayat yang sama pada ayat 28, 64, dan 113 dan kata yang
mengalami ibdal cukup banyak terulang namun dalam bentuk dan ayat yang
berbeda.
DAFTAR
PUSTAKA
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID
AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni
Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Fathoni,
Hanif. “Pembentukan Kata Dalam Bahasa Arab (Sebuah Analisis Morfologis
‘K-T-B’).” At-Ta’dib, 2013, doi:10.21111/AT-TADIB.V8I1.513.
Himmatul, Zudha. I’LAL
BIL IBDAL DALAM KITAB AYYUHAL WALAD (ANALISIS MORFOFONOLOGI). no. May,
Universitas Negeri Semarang, 2014.
Iltaqiyah, Aminah. I’lal
Dan Ibdal Dalam Surah Al-Ahqof. UIN Yogyakarta, Kalijaga, 2008.
Natsir, Muhammad.
“PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DENGAN PENDEKATAN ANALISIS MORFOLOGI.” Jurnal Al
Bayan: Jurnal Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, 2017,
doi:10.24042/albayan.v9i1.1110.
Syarsyal,
Ahmad bin ahmad bin ma’ruf. At-Tabyiin lihijai at-tanzil. Kerajaan Arab
Saudi, 2019
Irawati, Retno Purnama. Pengantar Memahami Linguistik.
Semarang: Cipta Prima Nusantara, 2013.